Sibuk... sibuk... sibuk...
Tidak ada waktu... tidak ada waktu... tidak ada waktu...
Tidak sempat... tidak sempat... tidak sempat...
Terlalu lelah... terlalu lelah... terlalu lelah...
Semua itu hanyalah alasan...
Alasan yang membuatku semakin jauh dengan mereka...
Kaka Chessa...
semakin pintar bergaya.
Semakin sehat dan ceria.
Dede Nash...
sudah dapat menampilkan emosinya. Menangis. Tertawa.
Bodas.... Apakabar Bodas? Assalamuallaikum...
Saat paling menyesakkan, saat kelahiran Nirwasita Ruth Parantean, wanita yang telah lama kunantikan kehadirannya. Aku tak ada di sisinya, untuk menyaksikan pertama kalinya ia melihat dunia.
....
....
....
....
Sudahlah... tak akan berakhir kata untuk penyesalan.
cahrithah
Minggu, 13 November 2011
Sabtu, 24 September 2011
Maen-maen ke booth Uluyu.com di SosMedFest
Uluyu bikin b'gaulmu skarang makin seru. Dengan tagline ... amazing daily deals! kamu bisa dapet diskon seru dari berbagai macam produk, mulai fashion sampai entertainment. So... nantikan kedatangan kemeriahan www.uluyu.com di dunia digital. Jangan sampai terlewat. Deal seru-seruan bareng Uluyu.com.
Selasa, 08 Februari 2011
Cover Buku Kami Anak-anak Bom Atom
Ini cover yang menurut saya, saya banget. Saya senang berproses di dalam pengerjaan cover buku ini. Mulai dari mengkonsep hingga finishing. Sederhana namun penuh makna, menurut saya. Kisah yang disajikan merupakan kisah nyata anak-anak korban bom atom Hirosima dan Nagasaki, Jepang. Mengharukan, namun menginspirasi bahwa balas dendam, membalas kejahatan dengan kejahatan adalah perbuatan yang tidak masuk akal. Melukai, menyakiti, tanpa ada solusi. Anak-anak ini mengajarkan banyak hal dalam hisup. Berani untuk terus berharap, bermimpi dan merealisasikannya.
Kamis, 03 Februari 2011
Di Balik Pembuatan Cover Seri Buku OSPREY
Sudah sejak kecil saya menyukai sejarah, terutama sejarah tentang peperangan yang melibatkan negara-negara besar di dalamnya. Hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mendesain ulang cover seri buku OSPREY versi Indonesianya. Seri buku OSPREY adalah seri buku dengan topik perang-perang besar yang ada di dunia. Seri ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu seri medan laga dan seri petarung. Seri medan laga membahas masalah pertempuran yang berlangsung di negara-negara besar dengan perang-perang besarnya yang melegenda. Mulai dari latar belakang penyebab peperangan, taktik perang, faktor geografis, peninggalan-peninggalan arkeologis hingga penyebab berakhirnya peperangan. Semua disajikan secara lengkap dan beruntun. Adapun dengan seri petarung berisi tentang profil prajurit dan pasukan elite dari berbagai peperangan yang ada di dunia mulai dari rincian persenjataan, siasat perang, organisasi, pelatihan, beraneka keahlian militer dari berbagai suku, hingga kehidupan sehari-hari mereka. Seri buku ini menurut saya menarik dan layak baca karena disajikan dengan tampilan yang ringan, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak berunsur menggurui, selain karena buku ini merupakan hasil kerja orang yang ahli dibidangnya, data yang ditampilkan juga merupakan hasil studi bertahun-tahun.
Ini adalah buku pertama yang memang benar-benar saya desain ulang covernya dari awal. Mulai dari konsep hingga ke finishingnya. Judulnya adalah seri buku OSPREY Medan Laga, El Alamein 1942 Laga di Gurun. Buku ini berlatar belakangpertempuran Perang Dunia II yang pecah di El Alamein, Mesir. Di medan laga itu untuk pertama kalinya Sekutu merebut kemenangan atas Axis. Terlebih lagi pertempuran seru ini melibatkan panglima-panglima perang terbaik didua kubu pasukan, yaitu Rommel sang "Rubah Padang Pasir" dari pasukan Axis dan Montgomery dari pasukan sekutu.

Buku berikutnya adalah seri buku OSPREY Petarung, Ksatria Muslim dalam Perang Salib. Buku ini menyajikan profil prajurit dan pasukan elite Muslim zaman pertengahan. Mulai dari tehnik rincian persenjataan, model-model seragam dan peralatan perang, siasat, oraganisasi, pelatihan, hingga kehidupan sehari-hari mereka. Karena pasukan ini berasal dari berbagai macam suku yang ada pada saat perang salib berlangsung, maka beraneka keahilan militer dari bermacam suku saling melengkapi sehingga menghasilkan laskar yang mendukung keberhasilan militer para panglima Muslim terkemuka zaman itu, salah satunya adalah Shalahuddin Ayyubi.
Buku selanjutnya kembali ke seri buku OSPREY Medan Laga, yaitu Perang Salib I 1096-99. Buku ini salah satu yang menarik bagi saya, sehingga dalam pembuatannya saya melakukan observasi yang cukup panjang, mulai dari membaca naskah asli buku ini, melihat film Kingdom of Heaven, mencari data di google, wikipedia, hingga membaca literatur-literatur sejarah di perpustakaan dan memainkan game Perang Salib I (kalo yang ini emang pada dasarnya seneng nge-game ;P). Nuansa yang ingin saya tampilkan untuk buku ini adalah kengerian, kekejaman, dan kebrutalan perang dimana Tentara Salib Eropa utara tega membunuh penduduk sipil yang berusaha menyelamatkan diri ke dalam dan sekitar Masjidil Aqsa di Haram as-Syarif. Ada tiga alternatif warna yang saya ajukan, dengan menggunakan tone merah sebagai lambang peperangan yang membara dan darah yang tertumpah, tone warna biru sebagai lambang keputusasaan dan dinginnya perang, dan tone hijau mengikuti tehnik freeze di game yang muncul saat sebuah peperangan berusaha diabadikan. Akhirnya cover yang dipilih adalah yang bisa anda lihat sekarang ini.
Saat ini saya sedang mengerjakan cover untuk seri buku OSPREY Medan Laga, Perang Salib II. Semoga cover kali ini dapat memuaskan saya, manager saya, tim pemasaran, dan terutama para pembaca dan penikmat perang di seluruh Indonesia. Selamat membaca seri buku OSPREY.
Ini adalah buku pertama yang memang benar-benar saya desain ulang covernya dari awal. Mulai dari konsep hingga ke finishingnya. Judulnya adalah seri buku OSPREY Medan Laga, El Alamein 1942 Laga di Gurun. Buku ini berlatar belakangpertempuran Perang Dunia II yang pecah di El Alamein, Mesir. Di medan laga itu untuk pertama kalinya Sekutu merebut kemenangan atas Axis. Terlebih lagi pertempuran seru ini melibatkan panglima-panglima perang terbaik didua kubu pasukan, yaitu Rommel sang "Rubah Padang Pasir" dari pasukan Axis dan Montgomery dari pasukan sekutu.

Buku berikutnya adalah seri buku OSPREY Petarung, Ksatria Muslim dalam Perang Salib. Buku ini menyajikan profil prajurit dan pasukan elite Muslim zaman pertengahan. Mulai dari tehnik rincian persenjataan, model-model seragam dan peralatan perang, siasat, oraganisasi, pelatihan, hingga kehidupan sehari-hari mereka. Karena pasukan ini berasal dari berbagai macam suku yang ada pada saat perang salib berlangsung, maka beraneka keahilan militer dari bermacam suku saling melengkapi sehingga menghasilkan laskar yang mendukung keberhasilan militer para panglima Muslim terkemuka zaman itu, salah satunya adalah Shalahuddin Ayyubi.
Buku selanjutnya kembali ke seri buku OSPREY Medan Laga, yaitu Perang Salib I 1096-99. Buku ini salah satu yang menarik bagi saya, sehingga dalam pembuatannya saya melakukan observasi yang cukup panjang, mulai dari membaca naskah asli buku ini, melihat film Kingdom of Heaven, mencari data di google, wikipedia, hingga membaca literatur-literatur sejarah di perpustakaan dan memainkan game Perang Salib I (kalo yang ini emang pada dasarnya seneng nge-game ;P). Nuansa yang ingin saya tampilkan untuk buku ini adalah kengerian, kekejaman, dan kebrutalan perang dimana Tentara Salib Eropa utara tega membunuh penduduk sipil yang berusaha menyelamatkan diri ke dalam dan sekitar Masjidil Aqsa di Haram as-Syarif. Ada tiga alternatif warna yang saya ajukan, dengan menggunakan tone merah sebagai lambang peperangan yang membara dan darah yang tertumpah, tone warna biru sebagai lambang keputusasaan dan dinginnya perang, dan tone hijau mengikuti tehnik freeze di game yang muncul saat sebuah peperangan berusaha diabadikan. Akhirnya cover yang dipilih adalah yang bisa anda lihat sekarang ini.Cover untuk buku selanjutnya adalah seri buku OSPREY Petarung, Ksatria Templar 1120-1312. Setelah observasi ke toko buku dan mendapati bahwa cover dengan tone warna merah memiliki daya tarik yang berbeda (lebih keren a.k.a lebih nongol) di toko buku, maka saya mengambil tone warna merah sebagai tone warna cover kali ini. Jujur saya akui untuk cover kali ini saya kurang berkenan, karena sosok yang tampil disini terkesan kurang ksatria, kurang gagah, namun apa daya, mengikuti permintaan para manager akhirnya saya tampilkan juga profil ksatria yang kurang ksatria ini sebagai profil cover.
Saat ini saya sedang mengerjakan cover untuk seri buku OSPREY Medan Laga, Perang Salib II. Semoga cover kali ini dapat memuaskan saya, manager saya, tim pemasaran, dan terutama para pembaca dan penikmat perang di seluruh Indonesia. Selamat membaca seri buku OSPREY.
Selasa, 14 September 2010
Kawanan Sunyi
Kolong langit mendesak malam kembali.
Entah ini sudah malam yang keberapa aku disini. Di bawah kolong langit, dalam sepi dan dinginnya malam yang memelukku. Kandara menyelingkupiku dalam kokohnya.
Disini aku tak sendiri, berjejalan bersama yang lain, seperti sekawanan semut yang merubung mangsa. Namun kala kami berdiri sendiri, kami tak ubahnya kecoa yang bertahan hidup dari gencetan sepatu lars.
Ah... mereka berebut kembali.
Seperti kawanan hyna, mengintai, mengikuti, mencoba mencari kelemahan mangsanya, dan saat sang mangsa lengah, mereka segera meloncat, mengoyak, merobek, menjejalkan taring tajam mereka dalam jaring halus mangsa yang sudah tak berdaya. Selalu begitu. Seakan tidak pernah puas. Kekejaman itu sering menarikku dengan kasar dari alam mimpiku. Membuatku tidak bisa berfikir dalam beberapa menit, dan hal itu tidak baik dalam kehidupanku yang sekarang, karena setiap saat bahaya dapat membinasakanku.
Sudah saatnya aku untuk kembali. Kembali ke dalamku. Kawananku. Sunyiku.
Entah ini sudah malam yang keberapa aku disini. Di bawah kolong langit, dalam sepi dan dinginnya malam yang memelukku. Kandara menyelingkupiku dalam kokohnya.
Disini aku tak sendiri, berjejalan bersama yang lain, seperti sekawanan semut yang merubung mangsa. Namun kala kami berdiri sendiri, kami tak ubahnya kecoa yang bertahan hidup dari gencetan sepatu lars.
Ah... mereka berebut kembali.
Seperti kawanan hyna, mengintai, mengikuti, mencoba mencari kelemahan mangsanya, dan saat sang mangsa lengah, mereka segera meloncat, mengoyak, merobek, menjejalkan taring tajam mereka dalam jaring halus mangsa yang sudah tak berdaya. Selalu begitu. Seakan tidak pernah puas. Kekejaman itu sering menarikku dengan kasar dari alam mimpiku. Membuatku tidak bisa berfikir dalam beberapa menit, dan hal itu tidak baik dalam kehidupanku yang sekarang, karena setiap saat bahaya dapat membinasakanku.
Sudah saatnya aku untuk kembali. Kembali ke dalamku. Kawananku. Sunyiku.
Senja Terakhir
"Ini senjamu yang keberapa?", tanyaNya padaku.
"Ini senjaku yang ketujuh bersamamu", jawabku ringan.
Kami berdua sedang menatap langit, mengharapakan sebuah meteor jatuh menghujam bumi.
"Ini malammu yang keberapa?", tanyaNya lagi padaku.
"Ini malamku yang kedelapan bersamamu", bisikku dalam diamnya.
Senja itu aku sendiri. Mengenang hari-hariku yang lalu. Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semua. Semua tentangku telah kuhapus dari muka bumi ini. Semua yang ada padaku telah aku musnahkan, dan abunya telah aku bawa terbang bersama angin. Aku ingin sendiri menghadapi saat-saat terakhirku. Aku tak ingin kepergianku diiringi isak tangis putus asa, atau teriakan-teriakan histeris, atau bahkan hujatan-hujatan yang menghujam. Aku bahagia. Yah, iniah puncak kebahagiaanku. Saat aku mampu menentukan saat-saat terakhirku. Senja terus bergulir. Cairan itu telah masuk kekerongkonganku. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Aku mati rasa. Aku terbang. Perlahan namun pasti aku lalui lorong-lorong sunyi di depanku. Sepi, rasa yang aku sayangi. Cahaya temaram yang mengiringi perjalananku semakin memburatkan terangnya. Terang yang tidak menyilaukan. Hangat. Damai. Di ujung lorong cahaya, kutemukan Dirinya, tersenyum, berselubung cahaya, mengulurkan tanganNya padaku. Menyambutku dan menuntunku mengikuti jalanNya.
Malam itu aku merasa tak sendiri lagi. Ada seseorang yang kini berjalan bersamaku.
"Ini senjaku yang ketujuh bersamamu", jawabku ringan.
Kami berdua sedang menatap langit, mengharapakan sebuah meteor jatuh menghujam bumi.
"Ini malammu yang keberapa?", tanyaNya lagi padaku.
"Ini malamku yang kedelapan bersamamu", bisikku dalam diamnya.
Senja itu aku sendiri. Mengenang hari-hariku yang lalu. Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semua. Semua tentangku telah kuhapus dari muka bumi ini. Semua yang ada padaku telah aku musnahkan, dan abunya telah aku bawa terbang bersama angin. Aku ingin sendiri menghadapi saat-saat terakhirku. Aku tak ingin kepergianku diiringi isak tangis putus asa, atau teriakan-teriakan histeris, atau bahkan hujatan-hujatan yang menghujam. Aku bahagia. Yah, iniah puncak kebahagiaanku. Saat aku mampu menentukan saat-saat terakhirku. Senja terus bergulir. Cairan itu telah masuk kekerongkonganku. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Aku mati rasa. Aku terbang. Perlahan namun pasti aku lalui lorong-lorong sunyi di depanku. Sepi, rasa yang aku sayangi. Cahaya temaram yang mengiringi perjalananku semakin memburatkan terangnya. Terang yang tidak menyilaukan. Hangat. Damai. Di ujung lorong cahaya, kutemukan Dirinya, tersenyum, berselubung cahaya, mengulurkan tanganNya padaku. Menyambutku dan menuntunku mengikuti jalanNya.
Malam itu aku merasa tak sendiri lagi. Ada seseorang yang kini berjalan bersamaku.
Api Air Api
"Bayu, apakah kau percaya bahwa di dalam diri setiap orang ada api?", tanyaku pada seseorang yang sedang menatap rembulan dengan mashyul.
"Ya", jawabnya singkat sambil tetap menatap rembulan. Ia menyimpan senyum dalam jawabnya.
"Lalu, jika manusia itu terdiri dari lebih kurang 60% air, apakah kau juga percaya?. Itu lebih dari setengah tubuh kita", tanyaku dengan nada meyakinkan.
"Ya", jawabnya masih dengan mengulum senyum.
"Ayolah Bayu, aku tahu kamu mampu menyanggah itu semua. Ada apa denganmu?", tanyaku dengan nada menuntut.
"Agni, untuk apa dibuktikan?. Untuk alasan apa aku berdebat denganmu, toh bukti itu sudah ada sendiri di hadapan kita, ada di dalam diri kita", jawabnya sambil menatapku, sendu.
"Apa yang membuktikan semua itu? Apa? Mana?", tanyaku memberondong pertahanannya. Aku ingin dia mendebatku, menyerangku, seperti kebanyakan orang yang sering aku hujani pertanyaan, sebagian dari mereka akan memalingkan muka jika sudah tidak sanggup menghadapiku, sebagian lagi masih tetap mencoba walau mereka sendiri tahu, semakin mereka menjawab, semakin tampak bodohlah mereka, sebagian lagi bersungut-sungut marah dan menghujaniku dengan celaan-celaan mereka. Hanya satu orang yang dari dulu aku anggap 'menyulitkanku' dengan sikapnya. Diamnya seakan mengejekku, senyumnya seakan menertawakanku, sikap cueknya menyobek ulu hatiku. Tidak ada orang yang tidak menjawab pertanyaanku. Tidak seorangpun terutama dia. Namun semakin aku melemparkan banyak pertanyaan padanya, semakin banyak teka teki yang harus aku pecahkan.
Dia hanya tersenyum menatapku. Tampak lebih sendu dari biasanya. Ah, mata indah itu. Melihat ke dalam matanya, membuatku seakan bercermin, aku dapat melihat sisi-sisi terdalamku, hingga membuatku malu pada dirinya. Ia dapat melihatku jauh hingga ke dalam lubuk hatiku. Ia jauh mengenal diriku dari pada diriku sendiri.
"Aku Bayu. Kamu Agni. Aku air. Kamu api. Sudah selayaknya air mendamaikan api dan api menyulutkan air. Api di dalam dirimu luar biasa besar. Semangat yang membara, pertanyaan yang bertubi-tubi tiada habisnya, jiwa yang seakan tak kan pernah padam. Namun kamu belum bisa mengendalikan api itu. Apimu dapat membakar dirimu sendiri. Aku air. Tenang mengalir, menghanyutkan, damai, namun ketenangan inipun akan mampu menenggelamkanku. Bayu ada karna Agni dan Agni ada karna Bayu. Untuk apa kau mempertanyakan hal bodoh tadi?", jawabnya panjang lebar mencengangkanku. Aku tergagap saat langsung menjawab, "untuk memancingmu bicara lebih panjang dari sekedar kata ya dan tidak".
"Ya", jawabnya singkat sambil tetap menatap rembulan. Ia menyimpan senyum dalam jawabnya.
"Lalu, jika manusia itu terdiri dari lebih kurang 60% air, apakah kau juga percaya?. Itu lebih dari setengah tubuh kita", tanyaku dengan nada meyakinkan.
"Ya", jawabnya masih dengan mengulum senyum.
"Ayolah Bayu, aku tahu kamu mampu menyanggah itu semua. Ada apa denganmu?", tanyaku dengan nada menuntut.
"Agni, untuk apa dibuktikan?. Untuk alasan apa aku berdebat denganmu, toh bukti itu sudah ada sendiri di hadapan kita, ada di dalam diri kita", jawabnya sambil menatapku, sendu.
"Apa yang membuktikan semua itu? Apa? Mana?", tanyaku memberondong pertahanannya. Aku ingin dia mendebatku, menyerangku, seperti kebanyakan orang yang sering aku hujani pertanyaan, sebagian dari mereka akan memalingkan muka jika sudah tidak sanggup menghadapiku, sebagian lagi masih tetap mencoba walau mereka sendiri tahu, semakin mereka menjawab, semakin tampak bodohlah mereka, sebagian lagi bersungut-sungut marah dan menghujaniku dengan celaan-celaan mereka. Hanya satu orang yang dari dulu aku anggap 'menyulitkanku' dengan sikapnya. Diamnya seakan mengejekku, senyumnya seakan menertawakanku, sikap cueknya menyobek ulu hatiku. Tidak ada orang yang tidak menjawab pertanyaanku. Tidak seorangpun terutama dia. Namun semakin aku melemparkan banyak pertanyaan padanya, semakin banyak teka teki yang harus aku pecahkan.
Dia hanya tersenyum menatapku. Tampak lebih sendu dari biasanya. Ah, mata indah itu. Melihat ke dalam matanya, membuatku seakan bercermin, aku dapat melihat sisi-sisi terdalamku, hingga membuatku malu pada dirinya. Ia dapat melihatku jauh hingga ke dalam lubuk hatiku. Ia jauh mengenal diriku dari pada diriku sendiri.
"Aku Bayu. Kamu Agni. Aku air. Kamu api. Sudah selayaknya air mendamaikan api dan api menyulutkan air. Api di dalam dirimu luar biasa besar. Semangat yang membara, pertanyaan yang bertubi-tubi tiada habisnya, jiwa yang seakan tak kan pernah padam. Namun kamu belum bisa mengendalikan api itu. Apimu dapat membakar dirimu sendiri. Aku air. Tenang mengalir, menghanyutkan, damai, namun ketenangan inipun akan mampu menenggelamkanku. Bayu ada karna Agni dan Agni ada karna Bayu. Untuk apa kau mempertanyakan hal bodoh tadi?", jawabnya panjang lebar mencengangkanku. Aku tergagap saat langsung menjawab, "untuk memancingmu bicara lebih panjang dari sekedar kata ya dan tidak".
Langganan:
Entri (Atom)







